
Ternyata Begini Commitment Fee Indonesia untuk FIFA Gelar Piala Dunia U-20
- JAKARTA—Kegagalan Indonesia menggelar Piala Dunia U-20 2023 tak hanya membawa dampak dari segi olahraga. Kerugian finansial dari berbagai aspek pun harus ditela
Sekitar Kita
JAKARTA—Kegagalan Indonesia menggelar Piala Dunia U-20 2023 tak hanya membawa dampak dari segi olahraga. Kerugian finansial dari berbagai aspek pun harus ditelan Indonesia usai status tuan rumahnya dicabut FIFA beberapa hari lalu.
Pada ajang kelas internasional, biasanya tuan rumah harus membayar commitment fee tertentu sebagai “tanda jadi” atau keseriusan menyelenggarakan kegiatan tersebut. Pada Asian Games 2018, Indonesia diketahui harus merogoh kocek Rp1,8 triliun untuk mengamankan diri sebagai penyelenggara ajang tersebut.
Adapun di Formula E, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dikabarkan mengeluarkan dana Rp560 miliar untuk commitment fee. Lalu berapa biaya yang harus dikeluarkan Indonesia ke FIFA untuk bisa menggelar Piala Dunia U-20 2023? Usut punya usut, Indonesia ternyata tak membayar sepeser pun untuk itu.
Hal tersebut diketahui dari pernyataan Gatot S Dewa Broto pada Oktober 2019. Saat itu, Gatot yang masih menjabat Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) mengaku pernah bertanya pada Ratu Tisha (masih Sekjen PSSI) ihwal commitment fee yang perlu dibayarkan pemerintah pada FIFA saat bidding tuan rumah.
Gatot menyebut PSSI membawa “kabar baik” karena Indonesia ternyata tak harus membayar sejumlah commitment fee. Sebagai informasi, Indonesia akhirnya memenangi bidding Piala Dunia U-20 2023 dengan menyingkirkan calon lain yakni Brasil, Peru dan kolaborasi Bahrain, Uni Emirat Arab serta Arab Saudi pada Oktober 2019.
Nihilnya commitment fee ini cukup melegakan mengingat Indonesia sudah harus menanggung kerugian ekonomi dengan perkiraan triliunan rupiah. Hal itu bersumber dari hilangnya potensi ekonomi atau multiplier effect dari Piala Dunia U-20, biaya pembangunan infrastruktur, kerja sama sponsor, hingga sanksi denda FIFA yang diperkirakan bakal dijatuhkan.
Kerugian itu bisa makin besar apabila FIFA akhirnya membekukan keanggotaan Indonesia. Jika itu terjadi, Indonesia berpotensi tak boleh memutar liga serta mengikutsertakan Timnas di ajang internasional. Hal ini tentu berdampak langsung pada nasib pemain, pelatih, wasit, klub dan warga yang terlibat dalam industri sepak bola nasional.
