Dampak serangan Hamas ke Israel mengoyakan keuangan Korsel. (Foto:Istimewa)
Sekitar Kita

Serangan Hamas ke Israel Berpotensi Goyang Pasar Keuangan Korsel

  • Serangan Hamas ke Israel Berpotensi Goyang Pasar Keuangan KorselManado, Potretmanado -- Spekulasi meningkatnya ketengan di Timur Tengah akan memicu permintaan e
Sekitar Kita
Mike

Mike

Author

Manado, Potretmanado -- Spekulasi meningkatnya ketengan di Timur Tengah akan memicu permintaan emas, dolar AS obligasi Departemen Keuangan Amerika Serikat, dan aset-aset aman lainnya pasca serangan mendadak militan Hamas ke Israel.

Dilansir dari Trenasia.com, Jumat (13/10/2023), serangan tersebut semakin menambahkan ketegangan lingkungan geopolitik yang sudah menegang karena perang di Ukraina. Ini memiliki dampak besar pada pasar keuangan Korea Selatan.

Hal ini menyusul naiknya harga minyak, inflasi tinggi yang terus berlanjut, dan kebijakan suku bunga Amarika Serikat yang cenderung keras membuat para investor khawatir.

Para analis mengatakan, dalam keadaan sulit seperti ini, preferensi investor terhadap aset-aset aman kemungkinan akan tumbuh di Korea sebanyak di negara lain, dan dapat menyebabkan pasar sahan serta mata uang turun tajam.

"Tanda-tanda meningkatnya preferensi terhadap aset-aset aman dapat terlihat di seluruh pasar keuangan global," ungkap Suh Sang-Young, seorang analis di Mirae Asset Securities.

Ia mencatat kalau harga minyak melonjak lebih dari 4 persen sejak serangan Hamas ke Israel. Sedangkan untuk emas naik lebih dari 1 persen selama periode yang disebutkan, mengabaikan kekuatan dolar Amerika Serikat dan lonjakan naik yield obligasi Departeman Keuangan Amerika Serikat.

Menurut laporan dari Bloombreng, dolar Amerika Serikat telah mengalami kenaikan sebesar 2,1 persen sepanjang tahun ini, berkat kampanye kenaikan suku bunga agresif dari Federal Reserve Amarika Serikat, yang mendorong tingkat dasar naik menjadi 5,25 persen hingga 5,5 persen mencapai level tertinggi dalam 22 tahun.

Sejalan dengan itu, dolar Amerika Serikat menuju kenaikan tahunan ketiga yang merupakan periode terpanjang sejak tahun 2016. Selanjutnya untuk obligasi Departemen Keuangan Amerika Serikat, yield obligasi sepuluh tahun mencapai level tertinggi dalam 16 tahun.

“Nilai dari semua aset aman ini dapat terus meningkat, mengingat perkembangan konflik di Israel diperkirakan akan semakin bergejolak,” kata Lee Sang-ho, kepala tim kebijakan ekonomi di Korea Economic Research Institute (KERI).

Joo Won, Direktur Deputi dari Hyundai Research Institute menilai bahwa aliran modal asing keluar dari pasar keuangan dapat menjadi lebih parah jika Federal Reserve (Fed) kembali memulai kampanye kenaikan suku bunga demi mengendalikan inflasi, dan selisih suku bunga antara Korea dan Amerika Serikat akan semakin melebar.

Selisih tersebut telah mencapai 2 persen dengan suku bunga Korea tetap berada pada 3,5 persen sejak bulan Januari.

Pengamat pasar meremehkan kekhawatiran kalau pasar keuangan Seoul akan menghadapi dampak setelah Korea bekerjasama dengan AS, mentransfer keuntungan Iran sebesar US$6 miliar dari penjualan minyak dengan perusahan-perusahan Korea. (Mike)