
Ratusan Kepala Keluarga Kelurahan Molas Demo Lurah Leopard Tampi
- Ratusan Kepala Keluarga Kelurahan Molas Demo Lurah Leopard TampiMANADO - Ratusan kepala keluarga (KK) yang menyebut diri warga adat Bantik Kelurahan Molas, Keca
Sekitar Kita
MANADO - Ratusan kepala keluarga (KK) yang menyebut diri warga adat Bantik Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado melayangkan mosi tidak percaya kepada Lurah Leopard Tanpi.
Mosi tidak percaya tersebut disampaikan saat mereka menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis pekan lalu di Kantor Kelurahan Molas.
Tokoh masyarakat Adat Bantik, Eldy Bara mengatakan, protes yang disampaikan warga dikarenakan sikap Lurah Leopard Tampi diduga menjadi "kaki tangan" mafia tanah di wilayah tersebut.
"Kami warga Molas, ahli waris Dotu Mandagie mempertanyakan sikap Lurah Leopard Tampi yang tidak mau menandatangani surat keterangan untuk pembentukan Perkumpulan Ahli Waris Dotu Mandagie dan Dotu Mokokapita Bantik Molas," ungkap Eldy Bara.
Menurut Eldy, pihaknya sedang melakukan pengurusan legalitas perkumpulan melalui notaris, tapi Lurah tersebut tidak mau menandatangai surat keterangan yang menjadi dokumen penting diperlukan.
Dia menduga, keengganan Leopard Tampi yang baru setahun menjabat Lurah Molas menandatangani dokumen tersebut, lantaran polemik tanah di Cempaka.
"Beberapa waktu lalu kami mempertanyakan sikap Lurah yang mengumpulkan warga Cempaka di kantor Lurah, sementara kami sebagai warga ahli waris Dotu Mandagie yang sah tidak dilibatkan," terangnya.
Ia menjelaskan, tanah di Cempaka seluas kurang lebih 34 hektare adalah milik Dotu Mandagie dan itu berdasarkan register desa. Meski begitu, Lurah Molas tidak melibatkan mereka sebagai ahli waris yang sah. Bahkan menurut Eldy, Lurah Leopard menjadi perpanjangan tangan Thomas Tampi yang mengklaim tanah di Cempaka adalah miliknya.
"Kami menduga, lantaran satu marga, Lurah Molas lebih berpihak kepada Thomas Tampi yang mengklaim sebagai pemilik tanah di Cempaka dengan mengesampikan ahli warus Dotu Mandagie," jelasnya. (Mike)
