
Petugas PMI Tomohon Terapkan Sistem Tidak Beres
- PMI Kota Tomohon sudah semestinya mendapatkan raport merah layaknya warna darah.
Sekitar Kita
TOMOHON – Sebagai organisasi kemanusiaan yang membantu pemerintah dalam hal kesehatan dan sosial, kinerja Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Donor Darah Kota Tomohon, Sulawesi Utara tidak seharusnya menerapkan sistem pelayanan yang tidak beres.
Hal ini lantaran kinerja salah satu petugas PMI Unit Donor Darah Kota Tomohon yang mengabaikan faktor kemanusiaan dan sosial dalam menjalankan tugas.
Pendonor yang dengan sukarela membantu pasien yang sakit untuk mendonorkan darahnya, justru diperlakukan dengan tidak berperikemanusiaan oleh petugas PMI Kota Tomohon.
Dua orang pendonor yang lebih dahulu datang dan melakukan proses administrasi serta pemeriksaan kesehatan diperlakukan dengan tidak adil oleh petugas PMI Unit Donor Darah Kota Tomohon dengan mendahulukan pendonor yang datang belakangan, Kamis (22/01/2026).
"Ba tunggu ne pak, nanti mo pangge," ujar petugas administrasi dan pengecekan kesehatan.
Setelah menunggu lama, dua pendonor mulai merasa curiga, lantaran nama mereka tidak kunjung dipanggil dan setelah dicek, keduanya sudah didahulukan oleh pendonor yang lain.
Setelah dikonfirmasi terkait perihal tersebut, petugas PMI Unit Donor Darah Kota Tomohon justru balik mempersalahkan kedua pendonor tersebut.
"Dorang bapak nda ada, jadi torang kase duluan yang lain," ujar petugas tersebut.
Alasan petugas mempersalahkan kedua pendonor tersebut lantaran tidak ada di dalam ruangan, sementara di dalam ruang tersebut tidak cukup tempat duduk sehingga pendonor memilih duduk dan menunggu di ruang depan gedung.
Gelagat pelayanan tidak baik petugas PMI Unit Donor Darah Kota Tomohon sudah terlihat saat proses administrasi terhadap pendonor yang dipersilakan mendahului untuk mendonorkan darah.
Petugas dan pendonor terlihat begitu akrab saat proses administrasi. Bahkan, keduanya sesekali bercanda disaat melakukan pengecekan kesehatan kepada kedua pendonor yang diperlakukan tidak adil.
Petugas tersebut bersikeras tidak mau menyebutkan namanya saat ditanya dan memilih menghilang dihadapan kedua pendonor.
