
Mengapa Slow Jogging Semakin Diminati? Ini Manfaatnya bagi Kesehatan
- Lagi tren, ini dia manfaat slow jogging atau slow running untuk kesehatan. Tertarik mencoba?
Sekitar Kita
JAKARTA — Akhir-akhir ini tren tentang lari atau dunia lari sedang naik, salah satunya adalah slow jogging atau lari pelan yang sedang menarik perhatian banyak penggemar olahraga di seluruh dunia.
Slow jogging adalah suatu teknik berlari yang sederhana, berasal dari Jepang dan jadi salah satu jenis olahraga yang dipercaya efektif untuk menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit akibat gaya hidup.
Konsep slow jogging atau slow running ini mirip dengan jogging santai. Seperti yang dilansir dari Verywell Health, dengan memperlambat tempo lari, kamu bisa menempuh jarak lari yang lebih jauh, melatih tubuh dalam berbagai aspek, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, memperkuat otot, dan menjaga kesehatan jantung serta paru-paru.
BACA JUGA: 8 Kebiasaan Pagi yang Tak Pernah Dilewatkan Orang-orang Sukses
Menurut ahli jantung sekaligus pelari, Dr. Tamanna Singh, banyak penelitian menunjukkan bahwa slow running atau slow jogging ini mampu memberikan manfaat besar bagi kebugaran aerobik tubuh.
Apa Itu Slow Jogging atau Slow Running?

Cara paling mudah memahami istilah slow jogging atau slow running ini adalah dengan membayangkan aktivitas lari santai yang masih memungkinkan kamu untuk mengobrol tanpa terengah-engah.
Menurut Dr. Tamanna Singh, ketika melakukan slow jogging, kamu masih bisa berbicara dengan lancar, bahkan bernyanyi mengikuti lagu yang sedang diputar.
Intensitas slow jogging yang cukup ringan ini secara teori bisa dipertahankan dalam waktu yang lama.
Meski begitu, kecepatan slow jogging bagi sebagian orang tentu berbeda.
BACA JUGA: Kenali Dynamic Pricing di Balik Harga Tiket Final Piala Dunia Tembus Rp37 M
Sebagai contoh, pelari yang biasanya menyelesaikan lomba 5 kilometer dalam waktu 18–20 menit tetap akan memiliki pace lambat yang lebih cepat dibandingkan seseorang yang menyelesaikan 5 kilometer dalam 25–30 menit.
Setelah menyelesaikan slow run atau lari pelan, idealnya kamu masih merasa sanggup melanjutkan lari, bukan kelelahan atau kehabisan napas. Dengan kata lain, latihan ini harus terasa nyaman dan tidak terlalu berat.
Bukan berarti kamu tidak boleh berlari cepat sama sekali. Hal terpenting adalah menyusun latihan secara seimbang.
Sebagian besar sesi latihan dilakukan dengan tempo santai, sementara sebagian kecil lainnya digunakan untuk latihan intensitas tinggi.
BACA JUGA: Atlet Meninggal Dunia di Ajang HYROX, Begini Cara Latihan yang Aman
Jadi, saat slow jogging, 80% latihan dilakukan dengan lari pelan, dan 20% sisanya lari dengan intensitas lebih tinggi.
Komposisi tersebut tetap bisa disesuaikan dengan tujuan latihan, pengalaman berlari, maupun riwayat cedera masing-masing orang.
Bagi pelari yang memantau detak jantung, Dr. Singh menyarankan agar sebagian besar latihan dilakukan di zona 2, yaitu sekitar 55–65% dari denyut jantung maksimal.
Manfaat Slow Jogging atau Slow Running
Membantu Tubuh Menghasilkan Energi Lebih Efisien

Salah satu alasan slow running atau slow jogging efektif untuk kesehatan tubuh adalah karena latihan ini meningkatkan fungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang menghasilkan sekitar 90% energi tubuh.
Mitokondria menggunakan oksigen untuk mengubah makanan menjadi energi.
Menurut Dr. Singh, berlari secara aerobik atau dengan intensitas rendah dapat meningkatkan jumlah mitokondria sekaligus memperbanyak kapiler, yaitu pembuluh darah kecil yang bertugas mengantarkan oksigen ke otot.
Semakin baik pasokan oksigen ke otot, semakin lama tubuh mampu bertahan sebelum mulai mengalami kelelahan.
BACA JUGA: 7 Tren Olahraga yang Lagi Digandrungi oleh Warga Indonesia 2026
Membantu Berlari Lebih Cepat

Tidak hanya membantu meningkatkan stamina, slow jogging atau slow running juga melatih serat otot agar mampu bekerja lebih lama.
Saat otot menjadi lebih kuat, tubuh dapat mempertahankan kecepatan tinggi dalam durasi yang lebih panjang.
Sebagai contoh, jika pace slow run-mu saat ini sekitar 10 menit per mil, lama-kelamaan pace santai tersebut akan menjadi lebih cepat tanpa terasa lebih berat.
Menurunkan Potensi Risiko Cedera

Berlari cepat menghasilkan benturan kaki ke tanah yang jauh lebih besar dibandingkan berlari santai.
Semakin tinggi kecepatan, semakin besar pula tenaga yang harus dihasilkan otot dan semakin besar tekanan yang diterima sendi.
Akibatnya, risiko cedera juga meningkat.
Sedangkan slow jogging atau slow running membantu tubuh tetap sehat dalam jangka panjang.
Latihan cepat memang tetap penting untuk meningkatkan performa. Namun, sesi lari santai juga sama pentingnya karena membantu melindungi tubuh dari cedera akibat beban latihan yang berlebihan.
BACA JUGA: Lagi Tren, Inilah Deretan Manfaat Kesehatan dari HYROX
Itu tadi penjelasan soal slow jogging atau slow running yang kini sedang tren dan manfaatnya untuk kesehatan. Tertarik untuk mencoba?
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 24 Jul 2026
