Santrawan Paparang, kuasa hukum AGK. (Foto:Mike)
Sekitar Kita

Ketua LBH GEKIRA: Kekristenan Tegas Tolak Pembunuhan dan Kekerasan

  • Ajaran gereja sangat jelas, 'Jangan membunuh' dan itu ada dalam sepuluh hukum yang wajib dipatuhi
Sekitar Kita
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Author

Manado - Ketua LBH Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) Partai Gerindra RI, Dr. Santrawan Totone Paparang, SH, MH, MKn, angkat bicara soal perkataan mantan Wapres RI, Jusuf Kalla, yang viral dan menimbulkan polemik yang mengaitkan, konflik di Poso dan Ambon, dengan pemahaman keagamaan tentang "syahid".

Dari sisi hukum,  praktisi sekaligus pakar hukum pidana,  di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta ini,  Dr. Santrawan Paparang, SH, MH, MKn, mengatakan,, tidak ada satupun sistem hukum di Indonesia, yang membenarkan kekerasan terutama pembunuhan, walaupun berbalut selubung agama.

Sebab tegasnya, konstitusi secara tegas menjamin kebebasan beragama, sekaligus melarang segala bentuk tindakan yang merugikan nyawa orang lain.

Dia menyebutkan, dalam hukum positif, pembunuhan tetap merupakan tindak pidana berat, apa pun motifnya, bahkan sekalipun dibalut dengan  narasi manis keagamaan.

"Negara tidak mengenal pembenaran kekerasan berbasis keyakinan," tegas advokad berdarah nusa utara itu.

Bahkan advokad yang dikenal getol memperjuangkan dan membela kaum marjinal, terutama minoritas itu, mengatakan, narasi yang menyederhanakan konflik menjadi sekadar persoalan doktrin agama berpotensi menyesatkan, karena mengabaikan faktor-faktor lain seperti politik, ekonomi, dan provokasi yang seringkali menjadi akar konflik.

Dia kemudian mengatakan, dari perspektif ajaran gereja, kekristenan secara tegas menolak kekerasan dan pembunuhan,  termasuk pemahaman “syahid” dengan cara membunuh. 

Sebab tegas Paparang, merujuk pada pada ajaran utama iman Kristiani, justru kasih merupakan sebagai hukum tertinggi, dalam kekristenan.

"Ajaran gereja sangat jelas, 'Jangan membunuh' dan itu ada dalam sepuluh hukum yang wajib dipatuhi, sebab merupakan perintah fundamental," Katanya.

Ayah tercinta Satrya dan Sanita Paparang ini, menegaskan, kasih adalah ajaran utama dari Yesus Kristus, mengasihi Tuhan dan sesama manusia, seperti diri sendiri

"Tidak ada ruang pembenaran untuk pembunuhan sebagai jalan menuju kemuliaan, dalam ajaran kristen" ujarnya.

Sebagai orang yang juga aktif melakukan pelayanan firman dan kesaksian dalam gereja, Paparang menegaskan,  pemahaman membunuh dapat membawa keselamatan adalah distorsi terhadap ajaran agama itu sendiri. Maka dia mengajak semua pihak, termasuk tokoh nasional, untuk berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan yang menyangkut isu sensitif seperti agama, agar tidak disalahtafsirkan oleh masyarakat.

Dia mengingatkan, bahwa setiap tokoh publik  punya tanggung jawab moral dan sosial untuk menjaga narasi agar tetap yang menyejukkan, bukan justru memperkuat stigma atau kesalahpahaman antarumat beragama.