Kegiatan literasi keuangan yang digelar di Bali.
Finansial &Teknologi

Easycash Hadirkan Pendekatan Baru Kampanye Literasi Keuangan

  • Kampanye literasi keuangan melalui MOJANG dan ChatPindar cara pendekatan baru yang dihadirkan Easycash.
Finansial &Teknologi
Mike

Mike

Author

ALI - Generasi muda Bali tengah gencar membangun usaha sejak masih menempu pendidikan dengan memanfaatkan media sosial, platform perdagangan elektronik, dan berbagai aplikasi digital untuk memasarkan produk maupun jasa.

Meski akses masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan digital terus meningkat, namun peningkatan inklusi ini masih belum diikuti dengan tingkat literasi keuangan yang setara.

Berdasarkan Surveri Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat indeks inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen, sementara indeks literasi literasi keuangan baru berada pada angka 66,46 persen.  

Data tersebut menunjukkan kesenjangan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan akses layanan keuangan digital, tetapi juga pemahaman memadai agar mampu menggunakan secara bijak dan bertanggung jawab. 



PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) hadir dengan upaya memperkecil kesenjangan tersebut dengan platform pinjaman daring (pindar) yang memiliki ijin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memperkenalkan dua inisiatif edukasi keuangan yaitu Modul Bijak keuangan (Mojang) dan ChatPindar.

Kedua inisiatif tersebut diperkenalkan dalam kegiatan UID Talk x Easycash bertajuk 'Adulting 101: How to Spend Smart and Manage Wisely' yang diselenggarakan bersama United In Diversity (UID) Foundation di UID Bali, Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Bali dengan destinasi wisata dunia, juga berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif dan kewirausahaan.  Bali Satu Data mencatat, sekitar 9,89 persen penduduk Bali berprofesi sebagai wirausaha. Data ini menunjukkan pentingnya membekali masyarakat, khususnya generasi muda dengan literasi keuangan agar mampu mengelola keuangan dan mengambil keputusan finansial secara bijak sejak dini.

Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman mengatakan peningkatan akses terhadap layanan keuangan harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi agar masyarakat mampu memanfaatkan layanan keuangan secara bertanggung jawab.

"Meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital, merupakan perkembangan yang positif. Namun, akses tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar masyarakat mampu mengenali manfaat, risiko, hak, dan kewajibannya sebagai konsumen. Karenanya, OJK mengapresiasi kolaborasi antara industri, asosiasi, organisasi nirlaba, dan institusi pendidikan seperti ini sebagai upaya memperkuat literasi keuanga, khususnya bagi generasi muda, sehingga mereka dapat mengambil keputusan keuangan secara bijak dan terhindar dari layanan keuangan ilegal, " ujar Parjiman.

Direktur Eksekutif Asosiai Fintech Indonesia (AFTCH), Mercy Sumorangkir dalam sambutannya menyampaikan bahwa literasi keuangan perlu diperkenalkan sejak dini, agar generasi muda mampu mengambil keputusan keuangan yang tepat di era digital.

"Kami tidak hadir untuk mendorong adik-adik memanfaatkan layanan keuangan tertentu. Tujuan kami adalah memperkuat pemahaman tentang pengelolaan keuangan pribadi, mengenalkan apa itu fintech, apa manfaat dan risikonya, serta kapan dan bagaimana layanan ini dapat dimanfaatkan secara tepat," ungkapnya.

Lebih lanjut Mercy menyebutkan, di tengah tingginga arus informasi berbagai channel komunikasi, pihaknya ingin generasi muda memiliki bekal untuk mengelola keuangan secara bijaksana dan tidak reakif dalam mengunakan berbagai produk serta layanan keuangan.

Senada dengan itu, Komisaris Utara Easycash, Jimmy Muhamad Rifai Gani menegaskan peningkatan inklusi keuangan harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi, karena semakin banyak mansyarakat yang memiliki akses terhadap layanan keuanga, semakin penting pula untuk memastikan mereka memiliki pemahaman yang memadai untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

"Bersama AFTECH dan IARFC Indonesia, Easycash menghadirkan Modul Bijak Keuangan (MOJANG) sebagai panduan edukasi finansial yang praktis, relevan, dan dekat dengan keseharian generasi muda," terang Jimmy.

"Kami juga bekerja sama dengan AFTECH untuk menghadirkan ChatPindar, platform literasi keuangan berbasis AI untuk memberikan akses informasi yang kredibel, mudah dipahami, dan muda diakses masyarakat terkait layanan pindar. Harapannya, generasi muda tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tapi mampu membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini," sambungnya.  

Sementara itu, President United In Diversity Foundation, Tantowi Yahya yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan kalau forum tersebut mencermikan semangat dasar UID Foundation sejak awal berdiri.

Tantowi Yahya mengatakan pihaknya percaya perubahan besar lahir dari dialog lintas sektor yaitu pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil yang duduk bersama menyelesaikan persoalan nyata.

"Pagi ini contohnya, ada OJK yang menjaga ekosistem keuangan tetap sehat, ada AFTECH yang mewakili industri fintech yang terus berinovasi, dan ada Easycash yang hadir dengan solusi konkret seperti MOJANG dan ChatPindar. Peran UID adalah memastikan ruang seperti ini terus ada, tempat regulator, industri, dan generasi muda saling mendengar," jelasnya.

Tantowi juga mengatakan, kemampuan mengelola keuangan merupakan salah satu keterampilan hidup yang perlu dipersiapkan sejak dini.

Menurutnya, menjadi dewasa bukan soal usia, tetapi kesiapan menghadapi hal-hal yang tidak diajarkan di ruang kelas, seperti mengelola penghasilan hingga membangun masa depan finansial. Karenanya, forum tersebut bukan menggurui, tapi membekali generasi muda dengan alat informasi, dan keberanian mengambil keputusan finansial yang bijak sejak dini.

Pentingnya Jaga Rekam Jejak Kredit Generasi Muda

Selain memperkenalkan MOJANG dan ChatPindar, kegiatan UID Talk x Easycash juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan finansial, termasuk memahami konsekuensi dari setiap keputusan keuangan yang diambil.

Jimmy menuturkan, menjaga rekam jejak kredit yang baik merupakan bagian dari kesiapan finansial jangka panjang. Pasalnya, banyak generasi muda saat ini sudah sangat terbiasa menggunakan berbagai layanan keuangan digital, tetapi belum semuanya memahami bahwa setiap keputusan finansial akan membentuk rekam jejak mereka di masa depan.

“Menjaga reputasi kredit yang baik sejak dini bukan hanya tentang memenuhi kewajiban pembayaran, tetapi juga membangun fondasi kepercayaan yang akan membuka lebih banyak peluang finansial di masa depan, baik untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan usaha, maupun memenuhi berbagai kebutuhan produktif lainnya,” pungkas Jimmy.

Melalui sinergi dalam program "Adulting 101" ini, Easycash, UID Foundation, AFTECH, dan OJK Provinsi Bali yang turut hadir pada kegiatan edukasi literasi keuangan ini berharap para mahasiswa di Bali dapat menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu menyebarkan semangat #BijakDalamMeminjam dan #JadiLebihPaham dalam mengelola keuangan demi terciptanya ekosistem keuangan digital Indonesia yang sehat dan berkelanjutan.