Sekitar Kita

Dr. Santrawan Totone Paparang, Tegakan Keadilan Adalah Kehormatan

  • Membela pencari keadilan adalah sebuah kehormatan, namun takut akan Tuhan adalah identitas diri
Sekitar Kita
Joise Bukara

Joise Bukara

Author

"Damihi Facta,  Do  Tibi Ius",  artinya,  "Berikan Kami Fakta, Maka  Kami Akan Memberikan Hukumnya".

Adegium hukum ini selalu disuarakan dengan lantang, oleh Advokad kondang, Dr. Santrawan Totone Paparang, SH, MH, MKn, setiap kali selesai bersidang membela klienya, di pengadilan negeri/Tipikor, dimana pun di seluruh Indonesia.

Berasal dari keluarga penegak hukum, Santrawan Paparang, memang dikenal sebagai salah satu "macan" dalam persidangan. Tak pernah gentar berhadapan dengan siapapun, dan selalu tahu kapan dan bagaimana membela orang yang minta bantuan hukum kepadanya.  

memilih jalannya sendiri, untuk menegakkan hukum. Suami tercinta dari Henny Tambuwun, SH, ini, memilih menjadi pengacara untuk membela para pencari keadilan di pengadilan, terutama orang yang tak mampu atau kaum marjinal, yang memang sudah dilakukannya sejak masih duduk di bangku kuliah.    

"Ayah saya adalah seorang jaksa, dan dia mengenalkan dunia hukum pada kami, sejak dini, namun saya memilih jalan sendiri, untuk menegakkan hukum, dan pengacara adalah jalan yang saya pilih," katanya mengenang awal-awal memulai karir sebagai seorang pengacara yang sekarang advokad.  

Sejak awal karirnya, di tahun 1995 ayah tercinta dari advokad muda Satrya Paparang, SH, MH, MKn, dan Sanita Paparang mahasiswa semester IV univeritas Trisaksi itu, sangat lantang menyuarakan dan membela keadilan bagi siapa saja yang memerlukan bantuannya. Sehingga tidak sedikit masyarakat kurang mampu yang menerima bantuan dan uluran tanganya, tanpa keluar uang sepeserpun, yang dilakukannya bersama mitra kerjanya, Hanafi Saleh, SH, di kantor hukum dan konsultan, Paparang-Hanafi and partners.

"Membela hak dan menegakkan kedilan, bukanlah soal nominal, tetapi tentang kepuasan hati, saat bisa membela orang tak mampu dan yang mencari keadilan,"katanya.

Terhitung, lebih dari 50 jenis perkara yang pernah ditanganinya, antara lain, tindak pidana politik, Tipikor ASN maupun swasta, Tipikor TNI, anggota Polri, Koorporasi, Tipikor money loundring korporasi, perkara HAM, Pertambangan, kehutanan dan lingkungan hidup, perbankan dan jasa keuangan, coporat strict liability, coeporate vicariour liability, pidana asuransi, illegal fishing, telekomunikasi, kepabeanan, perdagangan, Narkotika psikotropika dan prekursor, perkapalan, hukum udara dan penerbangan, ITE, kesehatan dan medis, saham korporat, pencucian uang-placemen-layering-heavy soaping-intgration-legitime explanation, tindak pidana hukum e-commerce, hak cipta, pertanahan, pemalsuan surat, penipuan, penggelapan dan tindak pidana perorangan dan masih ada banyak lagi.        
 
Menjadi salah satu dari 32 tokoh asal Sulawesi Utara pada tahun 2026, bersama Prabowo Subianto, serta nama-nama terkenal lainnya,  Dr. Santrawan Paparang, SH, MH, MKn, tak kemudian menjadi tinggi hati, malah semakin "membumi".

Aktif sebagai salah satu advokad kondang di ibukota Indonesia, Jakarta, Paparang menjadi salah satu petarung dalam setiap persidangan yang dihadirinya. Tidak sedikit orang yang dibantunya, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat tinggi negara, sudah merasakan bantuannya, sebut saja nama Napoleon Bonaparte, adalah satu dari sekian banyak yang merasakan dibela oleh Paparang, bersama timnya, dari kantor hukum Paparang-Batubara and partners.

Saat hijrah dan berkarir di Jakarta, Paparang memang memulai karirnya dari nol, hanya dengan modal takut akan Tuhan, dan memilih menyerahkan semua rencananya pada Tuhan, yang disembahnya, sehingga semuanya dibuat Tuhan berhasil.  

"Membela pencari keadilan adalah sebuah kehormatan, namun takut akan Tuhan adalah sebuah kewajiban dan identitas diri," katanya.

Sebab itu, disela-sela kesibukannya, putra Nusa Utara itu, selalu menyiapkan waktu khusus melakukan pelayanan kepada umat Tuhan, di gereja. Karena baginya, itupun adalah hal yang sangat penting dan tak boleh diwakilkan kepada siapapun, sebab dia sangat merasakan bagaimana Tuhan menolongnya melalui semua fase dan musim hidupnya.

Apalagi saat ini, dia pun dipercayakan menjadi ketua LBH GEKIRA Partai Gerindra RI, semakin banyak tanggungjawab yang dipikulnya. Namun semua itu tak membuatnya mundur, tetapi semakin bersemangat membela kebenaran dan menegakkan keadilan, bagi siapa saja, terutama kaum minoritas, yang hak-hak konstitusinya sering terabaikan.

Berusaha menyeimbangkan semua hal dalam hidupnya, opa dari Caleb Paparang ini juga aktif menjadi pengajar di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, bahkan menjadi pengajar di pasca sarjana. Itupun menjadi salah satu wujud kepeduliannya pada dunia pendidikan dan hukum.

Dia berharap bisa terus membaktikan hidupnya untuk menegakkan keadilan dan membela kaum marjinal serta menjadi teladan bagi generasi dibawahnya, dalam membela keadilan dan hukum.